Sabtu, 13 Juni 2009

Kebun Tebu Saksi Bisu

Akhirnya Aku pernah mengalaminya di sana, aku benar-benar bisa merasakan apa yang sedang aku lakukan sekarang ini. Sama, benar-benar sama. Hanya sadikit yang berbeda, kali ini aku tidak sendirian. Dan aku mengerjakannya dengan seseorang. Dia memintaku bergantian jika cairan itu sudah keluar itu dari tubuhmya. Ternyata tidak kalah nikmat, meski aku sadar yang ini lebih hitam, tapi aku sangat menikmatinya. Suasana di tengah kebun tebu yang sepi sungguh sangat tepat dengan apa yang aku lakukan bersama dia kepada kulit hitam itu. Rasanya tidak sabar aku ingin segera menggantikannya, aku pun harus memeganginya saat dia yang melakukan itu. Dua buah anunya bisa di bilang lepih padat dari yang biasa melayani aku, meski tak lebih besar. Perjalanan naik sepeda onthel tua itu pun berakhir di sebuah keramaian, keramaian yang bertempat di sbelah sebuah komplek rumah da masjid. itu terdiri dari masjid dan ada lima bangunan yang tertata di sekitarnya. Aku segera menuju sebuah bangunan setelah cak fahim menyandarkan sepedanya. Banguanan itu mempunyai ruangan yang dikhususukan untuk menginap. Bersebelahan langsung dengan joglo. Semakin malam Komplek suasana semakin ramai. Sambil menunggu acara dimulai aku berjalan –jalan di sekeliling area ini, tak lama kemudian kedua orang yang berasal dari daerahku itu datang, saidun dan husen. Karena husenlah saidun kenal tempat ini dan karena saidunlah aku bisa samapi di sini, semua seperti kebetulan, tetapi rasa*ingin* itu telah ada. Kami makan mie nertiga tanpa fahim, dia pamit pulang dahulu, setelah itu kami makan juga tahu yang diolesi dengan semacam saus manis, di tempat yang berbeda. Suara le orang tadarus qur’an terdengar, kami segera ke sana, duduk di dalam joglo. Di sana ada beberapa orang yang duduk di tempat yang agak tinggi, merka bergantian membaca ayat ayat suci itu, sati orang yang bercelana kombor itu lebih merdu dinanding yang lain, saat aku belum sempat bertanya siapa dia, saidun berbiasik kepadaku “Dia vokalisnya kiaikanjeng” Setelah beberapa saat, akhirnya dia muncul juga. Seseorang yang menjadikan Novia Kolopaking menjadi istrinya itu bernaju putih dan sarung putih pula. Mataku memandanginya terpisah tidak lebih dari panjang tubuh orang 20 tahun. Semua kieinginan jika kita tidak berhenti berusaha meraihnya pasti hal itu aka kita dapatkan. Myday myday Urusan makan beres, urusan yang itu nggak ada masalah tapi kalo urusan mandi…… ya kudu antri. Pukul 9.00 aku belum mandi, kalo yang udah mandi mereka langsung cabut ke undar. Karena di sana ada….???....[baca aja radar jombag what’s happened there on 7th june 09]. Aku pun juga nyampe sana, MOLOR……. Aku duduk paling depan sebelum kursi yang terdepan berada di sisi kanan berbatasan langsung denaga AMBALAT, eh salah, maksudnya bersebelahan langsung denga wong2 wadon. Mataku kethap-kethip sat acara berjalan paroh waktu, aku pun rela melakukan violance act kepada diriku sendiri, itu juga nggak berhasil mengusir rasa ngantuk. Sampai akhirnya……..*ma’ thekluk* aku kaget setengah pingsan. Doa yang langsung ku ucapkan Semoga Hanya Jibril Dan Allah Saja Yang Mengetahui . Entah sudah berapa ahad yang telah aku lalui tanpa hal-hal seprti teman2, minggu selalu membuatku semakin kemenk. Hari yang seharusnya dijadikan waktu istirahat justru di hari ini aku full time ada kegiatan, tapi memang hidup harus seperti ini. So, Sunday is not my dayn but MYDAY MYDAY MYDAY I DON’T LIKE MONDAY I DON’T LIKE SUNDAY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar